Unknown
Kalau sampai nanti surya datang dan mata Ini belum terpejam.
Layang bayang di ambang timpang
Berapa lama akan tetap terpanggang,
panasnya hati yang meradang
Sesirna malam disisa angan
Terasa sayatan demi sayatan menggores,
Luka lama yang tak kunjung sembuh
Diam mengiba tak berarti
Bahkan jujur pun bisa menghianati
Keadilan mana yang kau kultuskan
Hanya menghunus rindu saja kau tak mampu
Betapa lemahnya dirimu, kau tersungkur oleh ego yang membiru
Hingga dasar letak kau menaruhnya di hulu
Tidak boleh lagi ada pengandaian
Betapa pun kau bersandar, Dia adalah presepsimu
Bukan tentang sikap yang kau pertaruhkan,
Tapi, logika mu yang kadang mendewai
Bagi saya kau penjara
Hanya mengurung diri dalam jeruji
Melilit pada kebekuan hati
Sampai nanti perang berahir, tetap akan menjadi duri
Talkself
Unknown
yang susah itu menata hidup, menemukan maunya "hati" membenturkanya dengan kecakapan akal dalam menemukan logika,kemudian tanyakan pada fisik, selaku eksekutor lapangan, dia mampu menerima respon dan perintah atau tidak?
bagaiamana bisa terjadi jika hanya dari ketiganya kita belum faham falsafahnya?
Jawab!!!
Labels: 0 comments | | edit post
Unknown
Bukan melulu soal perasaan dan kata hati, bagaiaman seharusnya manusia dicipta dengan segenap kemampuan untuk menerka setiap tindakan dan kejadian dengan akalnya.
dalam filterisasi sari kehidupan dan kemudian kita mempadatkanya dalam nilai kebeneran yang tertanam dalam otak tentunya membutuhkan penghikmahan yang panjang, membenturkanya dengan macam-macam teori dan pengujian, sehingga bisa menempatkan pada nilai subtantif yang menjadi pedoman dalam hidup.
termasuk dalam hal ini adalah proses penggambaran siapa diri kita, bagaimana kita bisa membedakan antara personilitas dan identitas, keduanya adalah satu serangkaian yan menyebabkan kita memilih antara menjadi my self atau hidup dalam presepsi orang.